
KERINCI – Suasana hari Kamis kali ini terasa berbeda. Di koridor sekolah, sapaan hangat tidak lagi menggunakan bahasa ibu, melainkan beralih ke bahasa universal. Program "Thursday is English Day" kembali digelar dengan antusiasme tinggi, mengusung misi sederhana namun berdampak besar: membiasakan telinga dan lidah dengan bahasa Inggris melalui metode satu kalimat setiap minggunya.
Program ini dirancang untuk meruntuhkan tembok kecemasan bagi mereka yang sering merasa takut salah dalam berbicara bahasa asing. Dengan moto "Satu Minggu, Satu Kalimat," setiap peserta tidak dibebani dengan hafalan tata bahasa yang rumit. Fokus utamanya adalah keberanian untuk mengucap dan konsistensi dalam mempraktikkan satu frasa baru sepanjang hari hingga benar-benar melekat di luar kepala.
Momen yang paling dinantikan terjadi saat sesi sapaan pagi selesai dilakukan. Kali ini, sekolah menghadirkan sosok inspiratif dari kalangan siswa sendiri untuk memandu rekan-rekan mereka. Ananda Daka, seorang siswa yang dikenal memiliki kemampuan berbicara bahasa Inggris yang sangat mumpuni, tampil ke depan dengan percaya diri untuk memperkenalkan kalimat baru yang akan digunakan sepanjang hari.
Ananda Daka memberikan arahan yang sangat praktis mengenai bagaimana cara berinteraksi di area sekolah yang paling ramai, yaitu kantin. Dengan pelafalan yang fasih namun mudah diikuti, ia memperkenalkan kalimat: "I would like to buy a meal, please." Kalimat ini dipilih agar para siswa dapat langsung mempraktikkannya secara nyata saat waktu istirahat tiba untuk memesan makanan atau minuman.
Kepala koordinator program menjelaskan bahwa kehadiran siswa seperti Daka sebagai mentor sebaya jauh lebih efektif dibandingkan instruksi searah dari guru. Menurutnya, melihat rekan sejawat mampu berbicara bahasa asing dengan lancar memberikan motivasi tambahan bagi siswa lain. Hal ini membangun kepercayaan diri secara perlahan namun pasti, karena mereka merasa bahwa kemampuan tersebut sangat mungkin untuk dicapai. Dan Menurutnya, mempelajari satu kalimat secara mendalam, memahami pengucapannya, intonasinya, hingga konteks penggunaannya jauh lebih baik daripada menghafal daftar kosakata yang cepat terlupakan. Hal ini membangun kepercayaan diri secara perlahan namun pasti bagi para pemula.
Tidak hanya di kalangan pelajar, para staf dan guru pun turut memeriahkan suasana. Beberapa guru terlihat memberikan instruksi singkat dalam bahasa Inggris yang sederhana, yang disambut dengan senyum dan upaya maksimal dari para siswa untuk menjawab dengan bahasa yang sama. Lingkungan yang suportif ini menciptakan ruang aman bagi siapa saja untuk melakukan kesalahan tanpa merasa dihakimi.
Seiring berjalannya waktu, dampak dari rutinitas hari Kamis ini mulai terlihat nyata. Banyak peserta yang mulai berani merangkai kalimat mereka sendiri di luar kalimat wajib mingguan. Rasa canggung yang biasanya menyelimuti saat harus berbahasa Inggris perlahan mencair, digantikan oleh rasa ingin tahu dan semangat kompetisi yang sehat untuk menunjukkan kemampuan berbicara.
Kegiatan hari ini ditutup dengan sesi refleksi singkat di mana setiap orang saling memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan. Dengan berakhirnya hari Kamis ini, harapan besar tertanam bahwa satu kalimat yang dipelajari hari ini akan menjadi batu pijakan menuju kefasihan di masa depan. Sampai jumpa di Kamis depan dengan kalimat baru dan semangat yang lebih membara!
Penulis : Aya
|
37x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...